Selesai kuliah di tahun 2014, hanya menunggu selama dua bulan lalu aku bekerja. Bisa dibilang pekerjaan pertamaku ini membuka begitu banyak kesempatan. Aku bisa mendapatkan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayang.
Menginap di hotel berbintang lima, menghabiskan akhir pekan di vila mewah, mencicipi hidangan bertabur edible gold dan truffle, bertemu dengan banyak orang hebat, dijamu layaknya tamu spesial, memakai jam tangan berharga puluhan ribu Dolar, hingga terbang ke Eropa dengan business class.
It was only for job of course, but I feels like one of the luckiest woman back then. It was short but in the end I though I had enough. I should not be greedy over things that's artificial, am I right?
Memutuskan untuk mundur dari hal-hal mewah dan fancy tidak mudah. Aku jadi terbiasa. Yes, aku akui saya jadi lebih 'snob'. Kalau sebelumnya aku adalah pemilih, kini aku jauh lebih picky. Buat beberapa orang terdekat, aku berubah jadi lebih intimidatif.
Hal ini mungkin dikarenakan selama ini aku selalu merasa kurang percaya diri, dan ketika mendapatkan kemewahan fana itu aku seperti mendapatkan dorongan untuk lebih berani, lebih merasa di atas yang lain yang tak jarang membuatku arogan.
Aku jelas membenci diriku yang seperti itu. Tapi ketika itu, sifat arogansi ku dibutuhkan. Apalah aku dibandingkan orang-orang yang ada di profesiku? Anak bau kencur yang sok tahu. Arogansi membuatku dilihat, dipercaya, dan didengarkan. Tapi arogansi juga membuatku jadi orang yang menyebalkan dan intimidatif. Bahkan membuatku tak punya banyak hal, karena terlalu picky dan merasa hanya patut dapat yang terbaik dari yang terbaik.
Dulu aku menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku setidaknya satu bulan sekali, di mana aku bisa jadi diriku. Simple dan apa adanya. Tanpa makeup dan pretensi bahwa aku seseorang yang berkelas. Aku bisa meninggalkan topeng yang biasa kubawa sehari-hari.
Sampai akhirnya aku merasa cukup. Tempat itu cuma membuatku jadi orang yang besar dalam kepalaku sendiri. Aku harus keluar dan mencari tempat lain di mana aku bisa jadi diriku yang sebenarnya.
Saat ini tempat di mana aku bisa jadi diriku adalah rumah. Not as fancy as before, huh? Yes, I'm a happy-work-from-home woman. Dari yang tadinya bingung memikirkan baju tiap kali akan ke kantor sampai bisa dasteran sambil bekerja.
It's not easy of course, but I think it's better. Much better. At least I know I'm nothing instead of I pretend I was something while the truth is I am just nobody.
C
PS: Nanti mungkin akan kuceritakan kenapa bekerja di rumah juga tak seindah yang kamu pikirkan.
Menginap di hotel berbintang lima, menghabiskan akhir pekan di vila mewah, mencicipi hidangan bertabur edible gold dan truffle, bertemu dengan banyak orang hebat, dijamu layaknya tamu spesial, memakai jam tangan berharga puluhan ribu Dolar, hingga terbang ke Eropa dengan business class.
One of many perks from my job
It was only for job of course, but I feels like one of the luckiest woman back then. It was short but in the end I though I had enough. I should not be greedy over things that's artificial, am I right?
Memutuskan untuk mundur dari hal-hal mewah dan fancy tidak mudah. Aku jadi terbiasa. Yes, aku akui saya jadi lebih 'snob'. Kalau sebelumnya aku adalah pemilih, kini aku jauh lebih picky. Buat beberapa orang terdekat, aku berubah jadi lebih intimidatif.
Hal ini mungkin dikarenakan selama ini aku selalu merasa kurang percaya diri, dan ketika mendapatkan kemewahan fana itu aku seperti mendapatkan dorongan untuk lebih berani, lebih merasa di atas yang lain yang tak jarang membuatku arogan.
Aku jelas membenci diriku yang seperti itu. Tapi ketika itu, sifat arogansi ku dibutuhkan. Apalah aku dibandingkan orang-orang yang ada di profesiku? Anak bau kencur yang sok tahu. Arogansi membuatku dilihat, dipercaya, dan didengarkan. Tapi arogansi juga membuatku jadi orang yang menyebalkan dan intimidatif. Bahkan membuatku tak punya banyak hal, karena terlalu picky dan merasa hanya patut dapat yang terbaik dari yang terbaik.
Dulu aku menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku setidaknya satu bulan sekali, di mana aku bisa jadi diriku. Simple dan apa adanya. Tanpa makeup dan pretensi bahwa aku seseorang yang berkelas. Aku bisa meninggalkan topeng yang biasa kubawa sehari-hari.
Sampai akhirnya aku merasa cukup. Tempat itu cuma membuatku jadi orang yang besar dalam kepalaku sendiri. Aku harus keluar dan mencari tempat lain di mana aku bisa jadi diriku yang sebenarnya.
Saat ini tempat di mana aku bisa jadi diriku adalah rumah. Not as fancy as before, huh? Yes, I'm a happy-work-from-home woman. Dari yang tadinya bingung memikirkan baju tiap kali akan ke kantor sampai bisa dasteran sambil bekerja.
It's not easy of course, but I think it's better. Much better. At least I know I'm nothing instead of I pretend I was something while the truth is I am just nobody.
C
PS: Nanti mungkin akan kuceritakan kenapa bekerja di rumah juga tak seindah yang kamu pikirkan.
Comments
Post a Comment