Skip to main content

Tentang Cinta, Hujan, dan Lampu Jalanan

(Vianna Tran & Andrew McFarland, as seen as cover of The New York Times Magazine. Photographed by Ryan McGinley)


Saya melihat foto sampul ini dua hari yang lalu. Saya ingat saya sebelumnya baru saja membaca komentar-komentar dari warganet yang membuat dahi berkerut dan dada terasa panas karena emosi. 

Ya, seburuk itu rasanya melihat warganet berkomentar akan suatu isu yang belum tentu mereka kuasai di internet.

Tapi begitu melihat sampul ini saya merasa dada saya hangat. Saya melihat cinta dari mata pria yang terpejam dan celah di antara bibir wanita. Saya melihat gairah dan kasih sayang yang bisa membara yang direfleksikan dengan bias kemerahan. Saya merasa seluruh kebencian yang sebelumnya saya serap terhapuskan karena foto ini. 

Sampul ini adalah satu di antara 24 sampul yang dibuat oleh The New York Times Magazine dalam rangka Love City special section. Sebuah tema besar yang mereka angkat tentang cinta yang terjadi di New York. Di mana di kota yang berisikan jutaan orang tersebut, yang terpenting di antara dua orang yang tengah jatuh cinta adalah pasangannya. Sementara jutaan orang lainnya seakan tak nyata. 

Tentunya di sampul-sampul yang lain cinta yang ditunjukan ada dari berbagai usia, ras, dan orientasi. Tapi semuanya sama bagi saya. Saya melihat gairah, cinta, dan kasih sayang. Tak peduli baru satu bulan, 2 tahun, ataukah 44 tahun pasangan tersebut telah bersama. Yang saya lihat adalah wujud dari perasaan yang begitu kuat, yang hanya dengan melihat versi dua dimensinya saja, dan dari jarak jutaan kilometer saya tetap bisa merasakannya. Luar biasa bukan? 

Hal lain yang lebih personal, sampul majalah ini membuat saya teringat alasan saya menyukai berkendara di malam hari dengan pasangan saya. Yes, I told M months ago, while we still hang out and weren't sure what those feelings are. I told him that I love watching city lights while driving. Saya menyebutkan betapa saya menyukai jajaran lampu di jalan tol yang refleksinya membias di jendela mobil. Bercampur dengan sorotan lampu dari mobil di depan dan arus sebaliknya. Membuat rona wajah saya dan ia bisa berubah-ubah. Sekaligus merubah mood, merefleksikan pikiran yang berkecamuk. Apa yang bisa dikatakan dan apa yang sebaiknya dipendam. 

Apalagi jika tengah hujan. Rintik-rintik hujan akan membuat bias cahaya makin luar biasa cantiknya. Melankolis. Begitu mungkin kamu akan menyebut saya. Tapi bagi saya justru orang yang tak punya perasaan saja yang tak luluh dengan perpaduan hujan dan lampu jalanan malam hari. Cobalah, rasakan magisnya perpaduan dua hal itu. Terlebih jika kamu bisa ajak orang yang kamu sayangi di sebelahmu untuk ikut merasakan betapa luar biasanya dua hal yang tadi saya sebutkan. 

.C.

Comments

Popular posts from this blog

Might We Meet Again? A Tanka

Tanka adalah sebuah genre puisi dalam kebudayaan Jepang yang biasanya berbentuk puisi pendek. Saya menemukan terjemahan Tanka ini sejak lama, dan sejak saat itu juga saya jatuh cinta.  Rasanya saya bisa merasakan kerinduan dan kepedihan dalam tiap kata yang dituliskan. Rasa ingin bertemu. Penantian yang tak pasti dan berakhir dengan kepasrahan.  Apakah Anda pernah merasakannya?  .C.

What is Your Bedtime Routine?

(cr: pinterest ) Seperti apa rutinitasmu sebelum tidur? Seringnya M dan aku tidur dalam waktu yang berbeda. Biasanya kami sudah ada di atas tempat tidur sembari sejak pukul 8 malam, sehabis makan malam. M biasanya sibuk dengan handphone-nya, sementara aku main game atau menonton TV. Meskipun kita sibuk dengan hal-hal yang ada di depan mata kita, ada kebiasaan yang entah mulainya kapan, tapi selalu kita lakukan. Kita selalu bersentuhan. I mean, our feet rubs each others or our fingers are intertwined. Jadi aku atau dia sama-sama sadar akan kehadiran satu sama lain. Seperti apa posisi tidur kalian? Di masa-masa awal kami menikah M dan aku selalu tidur dalam keadaan berpelukan, lalu hot flush pun datang, dan kita akhirnya tidur bersebelahan. Tapi akhir-akhir ini salah satu dari kita biasanya tertidur duluan. M biasanya tertidur terlebih dahulu. Aku selalu kebagian mematikan lampu tidur, TV, dan biasanya mengingatkannya untuk berdoa sebelum tidur. Lalu kita pun tidur. Deng...

From Fancy to Homey

Selesai kuliah di tahun 2014, hanya menunggu selama dua bulan lalu aku bekerja. Bisa dibilang pekerjaan pertamaku ini membuka begitu banyak kesempatan. Aku bisa mendapatkan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayang.  Menginap di hotel berbintang lima, menghabiskan akhir pekan di vila mewah, mencicipi hidangan bertabur edible gold dan truffle , bertemu dengan banyak orang hebat, dijamu layaknya tamu spesial, memakai jam tangan berharga puluhan ribu Dolar, hingga terbang ke Eropa dengan business class .  One of many   perks from my job It was only for job of course, but I feels like one of the luckiest woman back then. It was short but in the end I though I had enough. I should not be greedy over things that's artificial, am I right? Memutuskan untuk mundur dari hal-hal mewah dan fancy tidak mudah. Aku jadi terbiasa.   Yes , aku akui saya jadi lebih ' snob '. Kalau sebelumnya aku adalah pemilih, kini aku jauh lebih picky . Buat beberapa ...